DOWNLOAD
Saturday, 14 July 2012
Tuesday, 3 July 2012
Sunday, 24 June 2012
Pemenang Kuis Pendar Budaya #3
Makan sambal buat
sembelit
Menghadap polisi tak
berani
Bagi kalian yang
sedang sakit
Pendar Budaya siap
menemani
Saeful Munief
110606238
Friday, 15 June 2012
Saturday, 9 June 2012
Friday, 8 June 2012
Pendar Budaya #2
TELAH TERBIT
PENDAR BUDAYA #2
Dapatkan Segera di Koperasi Mahasiswa di Setiap Fakultas
Atau
Tuesday, 29 May 2012
Silabus Pendar Budaya #3
Silabus Pendar Budaya #3
Tema:
“Jejak Musik Nusantara: Jalan ke-Tuhan-an
atau Sekadar Keindahan”
"Musik sudah menjadi
bagian integral dalam perjalanan hidup manusia. Sejak zaman pra-sejarah, musik
sudah dikenal – meskipun belum teratur – sebagai sarana ‘bertemu’ Tuhan. Saat
ini, musik berkembang sebagai sebuah industri. Di Indonesia, industri musik
sedang mengalami proses internalisasi identitas. Seringkali ‘label’ musik tanah
air nyerempet ke khasanah musik
Melayu. Mengapa demikian? Bagaimana sejatinya khasanah musik Indonesia? Banyak
suku di Indonesia memiliki warna tersendiri dalam bermusik. Lagu-lagu daerah
menjadi ciri khas sebuah etnik. Alat musik menjadi sebuah kekayaan budaya yang
unik.
Redaksi Pendar
Budaya menerima tulisan dalam
bentuk:
Opini |
Gagasan | Jelajah
Budaya | Abstrak Ilmiah
Resensi |
Cerpen | Puisi
| Peristiwa
Agenda | Surat
Pembaca
Ketentuan tulisan
lihat di http://pendarbudaya.blogspot.com
DEADLINE 25 JUNI 2012
DEADLINE 25 JUNI 2012
Sunday, 27 May 2012
Usul Perubahan Kelima UUD 1945: Peran Konstitusi dalam Melestarikan Budaya dan Karakter Bangsa
Dalam seminar sosialisasi empat pilar yang diselenggarakan atas
kerjasama Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia
(Iluni FIB UI) dengan Dewan Perwakilan Daerah MPR-RI (DPD MPR-RI), Senin (7/5) di Auditorium
gedung I, FIB UI, para pembicara membahas usul perubahan kelima UUD 1945 dengan
pokok persoalan peran konstitusi dalam melestarikan budaya dan karakter bangsa.
Fadli Zon S.S, M.Sc
(Ketua Iluni FIB UI) mempresentasikan paper
berjudul Pancasila dan Jati Diri Bangsa.
Perumusan Pancasila begitu cepat dan dipersiapkan oleh Badan Penyelidik Usaha
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 di
depan sidang ini menjadi pidato penting tentang dasar negara. Kita tidak
menemukan dalam konstitusi bahwa negara Indonesia itu berdemokrasi liberal,
konstitusi juga bukan mengacu komunisme,
Friday, 25 May 2012
Saturday, 12 May 2012
Sunday, 22 April 2012
Friday, 20 April 2012
Wednesday, 18 April 2012
Wawancara | Pendar Budaya #1
Budaya, Bahasa, dan Potensi Negara
(wawancara dengan Ibu Nanny Sri Lestari, M.Hum)
Ibu Nanny Sri Lestari,
dosen Program Studi Jawa, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas
Indonesia, merupakan salah satu pemerhati kebudayaan. Pada edisi perdana, Pendar
Budaya meminta beliau untuk sedikit membagikan pemikirannya tentang Budaya dan
Negara. Wawancara yang dilakukan di Gedung 3 FIB UI ini memunculkan satu
kesadaran baru. Bahwa potensi budaya datangnya dari bahasa.
Budaya bukan sesuatu yang
bisa dipegang, bukan pula sebuah produk yang dapat dipakai, seperti sepatu.
Untuk itu, tidak mudah untuk mendefinisikan sebuah kebudayaan, apalagi
kebudayaan Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan adat istiadat. Sejarah
panjang bangsa Indonesia berperan dalam membentuk budaya Indonesia melalui
keadaan sehingga kita harus berhati-hati ketika menjelaskan tentang budaya
Indonesia.
Cerpen | Sang Pengibar dari Tegal
Tegal, 1996
Indonesia tanah
airku
Tanah tumpah
darahku
Di sanalah aku
berdiri jadi pandu ibuku
Indonesia
kebangsaanku, bangsa dan tanah airku
Marilah kita
berseru
Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku,
hiduplah negeriku
Bangsaku, rakyatku
semuanya
Bangunlah jiwanya,
bangunlah badannya untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya
merdeka merdeka
Tanahku negeriku
yang kucinta
Indonesia Raya
merdeka merdeka
Saturday, 7 April 2012
Resensi | Historiografi Sastra Indonesia
Judul : Historiografi Sastra
Indonesia 1960-an
Indonesia 1960-an
Penulis : Asep Sambodja
Penerbit : Bukupop
Halaman : 212
Thn. Terbit : 2010
_____
Sejarah yang Hilang
Oleh: Wahyu Awaludin*
|“Ada yang hilang dalam sejarah sastra Indonesia 1960-an...”
-Asep Sambodja dalam
Historiografi Sastra Indonesia 1960-an halaman 4
Tanggal 17 Agustus 1950, D.N
Aidit, Njoto, M.S.Ashar, dan A.S Dharta mendirikan sebuah organisasi bernama
Lekra. Sayang, akibat huru-hara 1965-an yang menjadi tonggak awal berdirinya
Orde Baru, Lekra dilarang. Para sastrawannya dihilangkan dari sejarah sastra
Indonesia “versi resmi”. Tengoklah buku-buku sejarah sastra “versi resmi”. Ikhtisar Kesusastraan Indonesia Modern
karya Pamusuk Eneste misalnya, sama sekali tak mencantumkan nama-nama pengarang
Lekra. Seolah pengarang Lekra adalah para penjahat yang harus dibasmi dari
sejarah.
Perlu enam bulan penelitian dan
berkeliling ke Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung untuk merampungkan buku ini.
Dan itu dilakukan Asep Sambodja saat ia sakit. Buku yang terbit pada tahun 2010
ini membuka tabir “sejarah yang hilang tersebut” ke dalam pentas kesusastraan
Indonesia secara terang-terangan.
Friday, 6 April 2012
Jelajah Budaya | Mungkin Anda, perlu ke Baduy
Mungkin
Anda, perlu ke Baduy
oleh: Kiki*
Jika Anda ingin sejenak melepas penat dengan
menikmati aroma keramahan dan kesejukan alam,
Mungkin Anda perlu ke Baduy
Suku Baduy adalah salah satu suku di Banten yang
sampai saat ini masih memegang teguh budayanya. Suku Baduy terletak di Desa Kenekes, Kecamatan
Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten Selatan di daerah Pegunungan Kendeng.
Banyak cerita konon orang Baduy adalah keturunan orang papajaran yang berasal
dari para senapati dan punggawa setia raja yang melarikan diri pada abad ke-
XII (Djoewarsa, 1987: 1). Masyarakat Baduy terbagi menjadi dua bagian yakni
Baduy Dalam dan Baduy Luar. Orang Baduy dalam bertempat tinggal di Kampung
Kajeroan yang terdiri dati tiga kepu’unan yakni Cibeo, Cikeusik dan
Cikartawana. Ketiga ke-pu’un-an
tersebut berada di Desa Tangtu Tilu
(pasti tiga). Sedangkan Baduy luar menempati banyak kampung ada sekitar 60
kampung. Masyarakat Baduy dalam dan luar mempunyai perbedaaan meskipun tidak
banyak berbeda, mulai dari pakaian dan aturan-aturan yang dianutnya.
Berikut
adalah peta perjalanan ke Baduy dari Depok, dengan menggunakan transportasi
kereta. Transportasi yang cukup murah meriah hanya butuh Rp 50.000 untuk ‘pulang-pergi’.
Depok-Tanah Abang (Rp 6.000), Tanah Abang-St. Rangkas Bitung (Rp 6.000) dbangan
dari St. Rangkas Bitung ke pintu gerbang Baduy Desa Ciboleger charter mobil (Rp 10.000). Yummi…murah
bukan J. Lalu mengenai biasa makan, cukup murah juga dengan membawa
bahan makanan dari Depok, untuk memasak kita bisa minta bantuan pemilik rumah
yang bakal kita tumpangi nanti. Tentunya dengan memberi semacam ‘upeti’ atau
uang/bahan makanan sebagai ucapan terima kasih. Bisalah diatur lah J.
Opini | Pendar Budaya #1
Kebudayaan
Daerah atau Kebudayaan Nasional?
Oleh: Dira Rahimsyah*
“Seperti
apa kebudayaan nasional di Indonesia?” tanya seorang mahasiswa Bahasa Indonesia
Penutur Asing (BIPA)
Memang, banyak sekali kebudayaan yang berkembang
di Indonesia. Meskipun begitu, kita
meyakini anggapan yang mengatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah
sama. Perbedaan ini berawal dari bercampurnya imigran dari Asia yang telah lama
menetap di Indonesia dengan penduduk asli. Proses kontak sosial yang terjadi
menyebabkan akulturasi kebudayaan. Karena mereka hidup di tempat-tempat yang
saling berjauhan, dengan lingkungan hidup mereka yang berbeda-beda, dan tidak
adanya komunikasi antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya, serta
pengaruh budaya luar berbeda-beda menjadi faktor-faktor keragaman budaya kita.
Dari sekian banyaknya kebudayaan yang berkembang di Indonesia, pertanyaan
mengelitik tadi kembali muncul, kebudayaan nasional itu seperti apa?
Pertanyaan tadi menjadi menarik karena dituturkan
oleh mahasiswa asing yang justru tertarik dengan keragaman budaya kita.
Thursday, 5 April 2012
Jelajah Budaya #1
Sedekah
Laut: Gelar Budaya di Pantai Selatan sebagai Adat Nelayan Kebumen
oleh: Wahyubea*
Bagi beberapa kalangan, nama Kebumen mungkin kedengaran asing.
Padahal, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah
ini merupakan gudang pariwisata baik wisata sejarah, alam, kuliner, maupun seni dan budaya. Di Kebumen
masih banyak dijumpai kegiatan pelestarian budaya, seperti pagelaran seni dan
budaya lokal. Menarik bukan? Jika pembaca tertarik untuk berberkunjung ke
Kabupaten Kebumen saya jamin dan pastikan tidak akan merasa bosan deh!
Kebumen
merupakan sebuah kabupaten yang terletak di bagian selatan Jawa Tengah,
Indonesia. Seperti halnya daerah-daerah di Indonesia yang mempunyai latar
belakang kultur budaya dan sejarah yang berbeda-beda, Kabupetan Kabumen juga
memiliki sejarah tersendiri. Dalam historiografi penulisan sejarah Kabupaten
Kebumen sendiri memilki banyak versi dan banyak pendapat, namun jika ditarik
benang merahnya dapat dikatakan bahwa awal mula adanya Kebumen tidak dapat
dipisahkan dari kerajaan Mataram Islam.
Hal ini disebabkan oleh adanya beberapa
keterkaitan peristiwa semasa kerajaan Mataram yang membawa pengaruh bagi
terbentuknya Kebumen. Di dalam struktur kekuasaan Mataram, lokasi Kebumen
termasuk di daerah Mancanegara Kulon (wilayah Kademangan Karanglo) yang masih
di bawah kekuasaan Mataram. Dengan demikian, Kebumen tidak hanya memiliki
potensi pariwisata, kesenian, adat dan tradisi lokal, tetapi juga memilki
sejarah yang panjang dalam pembentukannya.
Pendar Budaya
Tentang PENDAR BUDAYA
PENDAR BUDAYA adalah media cetak bulanan yang
merupakan wadah aspirasi dan kajian budaya di Indonesia. PENDAR BUDAYA lahir
dari kesadaran akan pentingnya pengetahuan budaya bagi generasi muda Indonesia.
PENDAR BUDAYA memiliki segmen pasar (pembaca) kalangan pelajar (SLTP, SLTA,
mahasiswa) dan profesional dalam berbagai bidang pada umumnya, dan budayawan
pada khususnya.
PENDAR BUDAYA bernaung dibawah Departemen
Keilmuan dan Kajian Budaya (KKB) FIB UI yang menawarkan konsep baru di dunia
media informasi. PENDAR BUDAYA memberikan kesempatan besar bagi mahasiswa dan
profesional yang menekuni dunia sastra, budaya, dan pendidikan untuk
mengembangkan potensi yang dimilikinya. PENDAR BUDAYA aktif dengan Kementerian
Pendidikan & Kebudayaan RI, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),
Dewan Kesenian Jakarta dan daerah lainnya, komunitas-komunitas, himpunan
mahasiswa, dan perusahaan penerbitan di berbagai daerah untuk menjaring sahabat
muda bangsa yang memiliki kemauan dan kemampuan untuk mengembangkan dan
melestarikan khasanah kebudayaan Indonesia, terutamad dilingkungan Universitas
Indonesia.
Rubriksasi
PENDAR BUDAYA menfokuskan rubriknya seputar
dunia kebudayaan. Komposisi isi dari Pustaka Nusantara adalah sebagai berikut :
60
% = Kajian Kebudyaaan
30
% = Pendidikan dan Ke-Indonesia-an
10
% = Iklan, dan lain-lain
Subscribe to:
Comments (Atom)






.jpg)









