Sunday, 24 June 2012

Pemenang Kuis Pendar Budaya #3





Makan sambal buat sembelit
Menghadap polisi tak berani
Bagi kalian yang sedang sakit
Pendar Budaya siap menemani


  Saeful Munief
  110606238



Friday, 8 June 2012

Pendar Budaya #2

TELAH TERBIT
PENDAR BUDAYA #2

Dapatkan Segera di Koperasi Mahasiswa di Setiap Fakultas

Atau







Tuesday, 29 May 2012

Silabus Pendar Budaya #3


Silabus Pendar Budaya #3


Tema:

“Jejak Musik Nusantara: Jalan ke-Tuhan-an atau Sekadar Keindahan”

"Musik sudah menjadi bagian integral dalam perjalanan hidup manusia. Sejak zaman pra-sejarah, musik sudah dikenal – meskipun belum teratur – sebagai sarana ‘bertemu’ Tuhan. Saat ini, musik berkembang sebagai sebuah industri. Di Indonesia, industri musik sedang mengalami proses internalisasi identitas. Seringkali ‘label’ musik tanah air nyerempet ke khasanah musik Melayu. Mengapa demikian? Bagaimana sejatinya khasanah musik Indonesia? Banyak suku di Indonesia memiliki warna tersendiri dalam bermusik. Lagu-lagu daerah menjadi ciri khas sebuah etnik. Alat musik menjadi sebuah kekayaan budaya yang unik.

Redaksi Pendar Budaya menerima tulisan dalam bentuk:
Opini | Gagasan | Jelajah Budaya | Abstrak Ilmiah
Resensi | Cerpen | Puisi | Peristiwa
Agenda | Surat Pembaca

Ketentuan tulisan lihat di http://pendarbudaya.blogspot.com




DEADLINE 25 JUNI 2012



Sunday, 27 May 2012

Usul Perubahan Kelima UUD 1945: Peran Konstitusi dalam Melestarikan Budaya dan Karakter Bangsa



Dalam seminar sosialisasi empat pilar yang diselenggarakan atas kerjasama Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (Iluni FIB UI) dengan Dewan Perwakilan Daerah MPR-RI  (DPD MPR-RI), Senin (7/5) di Auditorium gedung I, FIB UI, para pembicara membahas usul perubahan kelima UUD 1945 dengan pokok persoalan peran konstitusi dalam melestarikan budaya dan karakter bangsa.

Fadli Zon S.S, M.Sc (Ketua Iluni FIB UI) mempresentasikan paper berjudul Pancasila dan Jati Diri Bangsa. Perumusan Pancasila begitu cepat dan dipersiapkan oleh Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 di depan sidang ini menjadi pidato penting tentang dasar negara. Kita tidak menemukan dalam konstitusi bahwa negara Indonesia itu berdemokrasi liberal, konstitusi juga bukan mengacu komunisme,

Sunday, 22 April 2012

Wednesday, 18 April 2012

Wawancara | Pendar Budaya #1


Budaya, Bahasa, dan Potensi Negara
(wawancara dengan Ibu Nanny Sri Lestari, M.Hum)

            Ibu Nanny Sri Lestari, dosen Program Studi Jawa, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, merupakan salah satu pemerhati kebudayaan. Pada edisi perdana, Pendar Budaya meminta beliau untuk sedikit membagikan pemikirannya tentang Budaya dan Negara. Wawancara yang dilakukan di Gedung 3 FIB UI ini memunculkan satu kesadaran baru. Bahwa potensi budaya datangnya dari bahasa.
            Budaya bukan sesuatu yang bisa dipegang, bukan pula sebuah produk yang dapat dipakai, seperti sepatu. Untuk itu, tidak mudah untuk mendefinisikan sebuah kebudayaan, apalagi kebudayaan Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan adat istiadat. Sejarah panjang bangsa Indonesia berperan dalam membentuk budaya Indonesia melalui keadaan sehingga kita harus berhati-hati ketika menjelaskan tentang budaya Indonesia.

Cerpen | Sang Pengibar dari Tegal


 
 Oleh: Suci Indyra
Tegal, 1996
Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Di sanalah aku berdiri jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku, bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku
Bangsaku, rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya merdeka merdeka
Tanahku negeriku yang kucinta
Indonesia Raya merdeka merdeka

Saturday, 7 April 2012

Resensi | Historiografi Sastra Indonesia


Judul          : Historiografi Sastra 
                     Indonesia 1960-an
Penulis        : Asep Sambodja
Penerbit      : Bukupop
Halaman     : 212
Thn. Terbit  : 2010


  _____




Sejarah yang Hilang

Oleh: Wahyu Awaludin*

|“Ada yang hilang dalam sejarah sastra Indonesia 1960-an...”
-Asep Sambodja dalam
Historiografi Sastra Indonesia 1960-an halaman 4

Tanggal 17 Agustus 1950, D.N Aidit, Njoto, M.S.Ashar, dan A.S Dharta mendirikan sebuah organisasi bernama Lekra. Sayang, akibat huru-hara 1965-an yang menjadi tonggak awal berdirinya Orde Baru, Lekra dilarang. Para sastrawannya dihilangkan dari sejarah sastra Indonesia “versi resmi”. Tengoklah buku-buku sejarah sastra “versi resmi”. Ikhtisar Kesusastraan Indonesia Modern karya Pamusuk Eneste misalnya, sama sekali tak mencantumkan nama-nama pengarang Lekra. Seolah pengarang Lekra adalah para penjahat yang harus dibasmi dari sejarah.

Perlu enam bulan penelitian dan berkeliling ke Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung untuk merampungkan buku ini. Dan itu dilakukan Asep Sambodja saat ia sakit. Buku yang terbit pada tahun 2010 ini membuka tabir “sejarah yang hilang tersebut” ke dalam pentas kesusastraan Indonesia secara terang-terangan.

Friday, 6 April 2012

Jelajah Budaya | Mungkin Anda, perlu ke Baduy


Mungkin Anda, perlu ke Baduy
 oleh: Kiki*

Jika Anda ingin sejenak melepas penat dengan menikmati aroma keramahan dan kesejukan alam,  Mungkin Anda perlu ke Baduy

Suku Baduy adalah salah satu suku di Banten yang sampai saat ini masih memegang teguh budayanya. Suku Baduy terletak di Desa Kenekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten Selatan  di daerah Pegunungan Kendeng. Banyak cerita konon orang Baduy adalah keturunan orang papajaran yang berasal dari para senapati dan punggawa setia raja yang melarikan diri pada abad ke- XII (Djoewarsa, 1987: 1). Masyarakat Baduy terbagi menjadi dua bagian yakni Baduy Dalam dan Baduy Luar. Orang Baduy dalam bertempat tinggal di Kampung Kajeroan yang terdiri dati tiga kepu’unan yakni Cibeo, Cikeusik dan Cikartawana. Ketiga ke-pu’un-an tersebut berada di Desa Tangtu Tilu (pasti tiga). Sedangkan Baduy luar menempati banyak kampung ada sekitar 60 kampung. Masyarakat Baduy dalam dan luar mempunyai perbedaaan meskipun tidak banyak berbeda, mulai dari pakaian dan aturan-aturan yang dianutnya. 

 
Berikut adalah peta perjalanan ke Baduy dari Depok, dengan menggunakan transportasi kereta. Transportasi yang cukup murah meriah hanya butuh Rp 50.000 untuk ‘pulang-pergi’. Depok-Tanah Abang (Rp 6.000), Tanah Abang-St. Rangkas Bitung (Rp 6.000) dbangan dari St. Rangkas Bitung ke pintu gerbang Baduy Desa Ciboleger charter mobil (Rp 10.000). Yummi…murah bukan J. Lalu mengenai biasa makan, cukup murah juga dengan membawa bahan makanan dari Depok, untuk memasak kita bisa minta bantuan pemilik rumah yang bakal kita tumpangi nanti. Tentunya dengan memberi semacam ‘upeti’ atau uang/bahan makanan sebagai ucapan terima kasih. Bisalah diatur lah J.

Opini | Pendar Budaya #1


Kebudayaan Daerah atau Kebudayaan Nasional?

 Oleh: Dira Rahimsyah*

“Seperti apa kebudayaan nasional di Indonesia?” tanya seorang mahasiswa Bahasa Indonesia Penutur Asing (BIPA)

Memang, banyak sekali kebudayaan yang berkembang di Indonesia.  Meskipun begitu, kita meyakini anggapan yang mengatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah sama. Perbedaan ini berawal dari bercampurnya imigran dari Asia yang telah lama menetap di Indonesia dengan penduduk asli. Proses kontak sosial yang terjadi menyebabkan akulturasi kebudayaan. Karena mereka hidup di tempat-tempat yang saling berjauhan, dengan lingkungan hidup mereka yang berbeda-beda, dan tidak adanya komunikasi antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya, serta pengaruh budaya luar berbeda-beda menjadi faktor-faktor keragaman budaya kita. Dari sekian banyaknya kebudayaan yang berkembang di Indonesia, pertanyaan mengelitik tadi kembali muncul, kebudayaan nasional itu seperti apa?
Pertanyaan tadi menjadi menarik karena dituturkan oleh mahasiswa asing yang justru tertarik dengan keragaman budaya kita.

Thursday, 5 April 2012

Jelajah Budaya #1

Sedekah Laut: Gelar Budaya di Pantai Selatan sebagai Adat Nelayan Kebumen
 oleh: Wahyubea*


Bagi beberapa kalangan, nama  Kebumen mungkin kedengaran asing. Padahal,  Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah ini merupakan gudang pariwisata baik wisata sejarah, alam,  kuliner, maupun seni dan budaya. Di Kebumen masih banyak dijumpai kegiatan pelestarian budaya, seperti pagelaran seni dan budaya lokal. Menarik bukan? Jika pembaca tertarik untuk berberkunjung ke Kabupaten Kebumen saya jamin dan pastikan tidak akan merasa bosan deh!
 Kebumen merupakan sebuah kabupaten yang terletak di bagian selatan Jawa Tengah, Indonesia. Seperti halnya daerah-daerah di Indonesia yang mempunyai latar belakang kultur budaya dan sejarah yang berbeda-beda, Kabupetan Kabumen juga memiliki sejarah tersendiri. Dalam historiografi penulisan sejarah Kabupaten Kebumen sendiri memilki banyak versi dan banyak pendapat, namun jika ditarik benang merahnya dapat dikatakan bahwa awal mula adanya Kebumen tidak dapat dipisahkan dari kerajaan Mataram Islam.
Hal ini disebabkan oleh adanya beberapa keterkaitan peristiwa semasa kerajaan Mataram yang membawa pengaruh bagi terbentuknya Kebumen. Di dalam struktur kekuasaan Mataram, lokasi Kebumen termasuk di daerah Mancanegara Kulon (wilayah Kademangan Karanglo) yang masih di bawah kekuasaan Mataram. Dengan demikian, Kebumen tidak hanya memiliki potensi pariwisata, kesenian, adat dan tradisi lokal, tetapi juga memilki sejarah yang panjang dalam pembentukannya.

Pendar Budaya


Tentang PENDAR BUDAYA
PENDAR BUDAYA adalah media cetak bulanan yang merupakan wadah aspirasi dan kajian budaya di Indonesia. PENDAR BUDAYA lahir dari kesadaran akan pentingnya pengetahuan budaya bagi generasi muda Indonesia. PENDAR BUDAYA memiliki segmen pasar (pembaca) kalangan pelajar (SLTP, SLTA, mahasiswa) dan profesional dalam berbagai bidang pada umumnya, dan budayawan pada khususnya.
PENDAR BUDAYA bernaung dibawah Departemen Keilmuan dan Kajian Budaya (KKB) FIB UI yang menawarkan konsep baru di dunia media informasi. PENDAR BUDAYA memberikan kesempatan besar bagi mahasiswa dan profesional yang menekuni dunia sastra, budaya, dan pendidikan untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. PENDAR BUDAYA aktif dengan Kementerian Pendidikan & Kebudayaan RI, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dewan Kesenian Jakarta dan daerah lainnya, komunitas-komunitas, himpunan mahasiswa, dan perusahaan penerbitan di berbagai daerah untuk menjaring sahabat muda bangsa yang memiliki kemauan dan kemampuan untuk mengembangkan dan melestarikan khasanah kebudayaan Indonesia, terutamad dilingkungan Universitas Indonesia.
Rubriksasi
PENDAR BUDAYA menfokuskan rubriknya seputar dunia kebudayaan. Komposisi isi dari Pustaka Nusantara adalah sebagai berikut :
60 %  = Kajian Kebudyaaan
30 %  = Pendidikan dan Ke-Indonesia-an
10 %  = Iklan, dan lain-lain