Friday, 6 April 2012

Jelajah Budaya | Mungkin Anda, perlu ke Baduy


Mungkin Anda, perlu ke Baduy
 oleh: Kiki*

Jika Anda ingin sejenak melepas penat dengan menikmati aroma keramahan dan kesejukan alam,  Mungkin Anda perlu ke Baduy

Suku Baduy adalah salah satu suku di Banten yang sampai saat ini masih memegang teguh budayanya. Suku Baduy terletak di Desa Kenekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten Selatan  di daerah Pegunungan Kendeng. Banyak cerita konon orang Baduy adalah keturunan orang papajaran yang berasal dari para senapati dan punggawa setia raja yang melarikan diri pada abad ke- XII (Djoewarsa, 1987: 1). Masyarakat Baduy terbagi menjadi dua bagian yakni Baduy Dalam dan Baduy Luar. Orang Baduy dalam bertempat tinggal di Kampung Kajeroan yang terdiri dati tiga kepu’unan yakni Cibeo, Cikeusik dan Cikartawana. Ketiga ke-pu’un-an tersebut berada di Desa Tangtu Tilu (pasti tiga). Sedangkan Baduy luar menempati banyak kampung ada sekitar 60 kampung. Masyarakat Baduy dalam dan luar mempunyai perbedaaan meskipun tidak banyak berbeda, mulai dari pakaian dan aturan-aturan yang dianutnya. 

 
Berikut adalah peta perjalanan ke Baduy dari Depok, dengan menggunakan transportasi kereta. Transportasi yang cukup murah meriah hanya butuh Rp 50.000 untuk ‘pulang-pergi’. Depok-Tanah Abang (Rp 6.000), Tanah Abang-St. Rangkas Bitung (Rp 6.000) dbangan dari St. Rangkas Bitung ke pintu gerbang Baduy Desa Ciboleger charter mobil (Rp 10.000). Yummi…murah bukan J. Lalu mengenai biasa makan, cukup murah juga dengan membawa bahan makanan dari Depok, untuk memasak kita bisa minta bantuan pemilik rumah yang bakal kita tumpangi nanti. Tentunya dengan memberi semacam ‘upeti’ atau uang/bahan makanan sebagai ucapan terima kasih. Bisalah diatur lah J.


Memasuki wilayah Baduy, Anda akan disambut oleh pepatah yang cukup menggambarkan kearifan Baduy dalam menjaga alam, yakni:

Gunung teu meunang dilebur, Lebak teu meunang dirusak
Gunung tak boleh dihancurkan, lembah tak boleh dirusak

Selanjutnya, Anda akan disuguhkan oleh sajian alam Baduy yang sangat mengagumkan. Jauh dari pencemaran, penebangan liar dan polusi. Alam bagitu hijau, air bening dan aroma kesejukan bisa Anda nikmati.
Ketika itu desa tujuan saya adalah Desa Cigajebo, tempat saya dan teman-teman saya menginap selama 2 hari 2 malam. Dalam perjalanan menuju Cigajebo cukup banyak hal-hal yang begitu menakjubkan, mulai dari rumah kembar suku Baduy, kegiatan menenun masyarakat Baduy yang hampir dilakukan di setiap teras rumah, keunikan baju adat hingga sebuah jembatan yang ‘gila’ keren banget.





Foto di atas adalah foto saya dan tim perjalanan saya. Jembatan ini terdapat di Desa Cigajebo. Jembatan yang merupakan hasil gotong royong seluruh masyarakat Baduy. Berdasarkan hasil peng-kepo-an saya alias tanya-tanya kepada masyarakat setempat, jembatan tersebut dibangun hanya membutuhkan waktu 5 jam. WAW… keren banget, jembatan yang begitu besar dan tersusun rumit tersebut hanya dibuat dalam waktu 5 jam. Ajiiibbb….

Akhirnya malam-pun tiba, malam pertama di Baduy cukup seru. Di Baduy tidak terdapat listrik, so dinginnya Baduy pun juga ditemani gelap pekatnya malam tanpa cahaya, hanya bulan yang setia bersinar. Dan kami baru mengetahui jika jam 19.00 itu sudah jam malam, sudah tidak ditemukan manusia berkegiatan alias sudah tidur di rumah masing-masing. Tidur di rumah panggung dengan beralaskan tikar dan berselimut jaket ala kadar-nya menghantarkan kami pada lelap.

Keesokan harinya, perjalanan session 2 dimulai. Kami melanjutkan perjalanan berikutnya ke wilayah Baduy Dalam tepatnya di Desa Cibeo. Kami berangkat pukul 08.00 dan meninggalkan Desa Cigajebo yang sudah banyak kami dapati asap dapur mulai mengepul dari rumah-rumah. 

Dengan tenaga lebih ekstra dari pada hari pertama, akhirnya kami sampai di Cibeo salah satu desa di Baduy Dalam selain Cikeusik dan Cikartawana. Di Cibeo kami mendatangi rumah Pak Naldi, seorang yang sudah biasa menjadi guide untuk orang-orang kepo seperti kami. Sambutan yang ramah dengan senyum dan sajian santapan sederhana Baduy membuat kami merasa senang dan nyaman. Banyak canda dan berbagi cerita antara kami dan Pak Naldi sekeluarga. Dan ternyata Pak Naldi beserta kawan-kawannya pernah 2 kali ke FIB loh. WAW… jalan kaki ke kampus kita dari Baduy. Ajiiibb…

Sedikit analisis saya tentang perbandingan fisik kondisi Baduy Dalam dan Luar;
   Rumah panggung ala Baduy Dalam dan Luar berbeda, rumah panggung Baduy Dalam mempunyai panggung yang sedikit lebih tinggi. Gaya arsitektur dan pengaturan rumah lebih sederhana dari rumah panggung Baduy Luar. Masyarakat suku Baduy Dalam menggunakan pakaian serba putih dan Baduy Luar serba hitam. Orang yang menguasai bahasa Indonesia (bahasa nasional) lebih banyak terdapat di Baduy Dalam, hal ini diprediksi karena diduga lebih banyak turis yang bertujuan ke Baduy Dalam. Pada Baduy Dalam tidak dijumpai kegiatan menenun seperti Baduy Luar. Masyarakat suku Baduy Dalam tidak diperbolehkan mengendarai kendaraan bermesin, alias on foot every where.
   Selain perbedaan fisik, saya juga mendapatkan cukup informasi mengenai aturan adat. Aturan adat di Baduy Dalam lebih ketat, misalnya; dilarang menggunaan bahan kimia (sabun mandi dan cuci sekalipun), dilarang merokok, dan yang cukup penting bagi turis adalah dilarang mengambil foto di Baduy Dalam. Humm... padahal keindahan area Baduy Dalam pasti menggoda turis untuk men-jepret-nya.

Puas menikmati keindahan dan keharmonisa alam dan manusia di Baduy Dalam, kami memutuskan untuk kembali pulang ke Cigajebo. Suguhan alam kembali kami nikmati dan hayati. 


Kicauan burung kembali menyambut pagi kami, saatnya pulang ke Depok. Setelah berpamitan, kami bergegas menuju pintu gerbang Coboleger. Di pintu gerbang ternyata ada dua Bapak dari kampung Baduy Luar (maaf lupa namanya), mereka berdua sengaja ke pintu gerbang untuk mengantarkan dan say good by kepada kami. Waktu itu saya ingin menangis karena terharu. J
Baduy, penuh kenangan!




Masyarakat baduy tidak mengenyam pendidikan formal, mereka tidak bersekolah, mereka tidak bisa baca tulis
Tapi mereka sangat hebat, mereka belajar dari alam, mereka memahami alam, bersahabat dengan alam, dan cerdas karena alam
Mereka tidak penah merasa kurang, mereka mensyukuri apa yang mereka dapat, tidak ada iri dengki, yang ada hanya saling berbagi

---Ayo kembali ke alam, Ayo belajar dari Baduy ---
“Visit Baduy, jangan kalah ama turis2 luar negeri”


______*
Norma Rizkiananingrum
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya’10
Biasanya dipanggil Kiki, orang kesatu di KKB FIB UI. 
Orang bilang ia sangat aktif dan tegas. Meskipun kadang nggak jelas.

No comments:

Post a Comment