Mungkin
Anda, perlu ke Baduy
oleh: Kiki*
Jika Anda ingin sejenak melepas penat dengan
menikmati aroma keramahan dan kesejukan alam,
Mungkin Anda perlu ke Baduy
Suku Baduy adalah salah satu suku di Banten yang
sampai saat ini masih memegang teguh budayanya. Suku Baduy terletak di Desa Kenekes, Kecamatan
Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten Selatan di daerah Pegunungan Kendeng.
Banyak cerita konon orang Baduy adalah keturunan orang papajaran yang berasal
dari para senapati dan punggawa setia raja yang melarikan diri pada abad ke-
XII (Djoewarsa, 1987: 1). Masyarakat Baduy terbagi menjadi dua bagian yakni
Baduy Dalam dan Baduy Luar. Orang Baduy dalam bertempat tinggal di Kampung
Kajeroan yang terdiri dati tiga kepu’unan yakni Cibeo, Cikeusik dan
Cikartawana. Ketiga ke-pu’un-an
tersebut berada di Desa Tangtu Tilu
(pasti tiga). Sedangkan Baduy luar menempati banyak kampung ada sekitar 60
kampung. Masyarakat Baduy dalam dan luar mempunyai perbedaaan meskipun tidak
banyak berbeda, mulai dari pakaian dan aturan-aturan yang dianutnya.
Berikut
adalah peta perjalanan ke Baduy dari Depok, dengan menggunakan transportasi
kereta. Transportasi yang cukup murah meriah hanya butuh Rp 50.000 untuk ‘pulang-pergi’.
Depok-Tanah Abang (Rp 6.000), Tanah Abang-St. Rangkas Bitung (Rp 6.000) dbangan
dari St. Rangkas Bitung ke pintu gerbang Baduy Desa Ciboleger charter mobil (Rp 10.000). Yummi…murah
bukan J. Lalu mengenai biasa makan, cukup murah juga dengan membawa
bahan makanan dari Depok, untuk memasak kita bisa minta bantuan pemilik rumah
yang bakal kita tumpangi nanti. Tentunya dengan memberi semacam ‘upeti’ atau
uang/bahan makanan sebagai ucapan terima kasih. Bisalah diatur lah J.
Memasuki
wilayah Baduy, Anda akan disambut oleh pepatah yang cukup menggambarkan
kearifan Baduy dalam menjaga alam, yakni:
Gunung teu meunang dilebur, Lebak teu meunang
dirusak
Gunung tak boleh dihancurkan, lembah tak
boleh dirusak
Selanjutnya, Anda akan disuguhkan oleh sajian
alam Baduy yang sangat mengagumkan. Jauh dari pencemaran, penebangan liar dan
polusi. Alam bagitu hijau, air bening dan aroma kesejukan bisa Anda nikmati.
Ketika itu desa tujuan saya adalah Desa
Cigajebo, tempat saya dan teman-teman saya menginap selama 2 hari 2 malam.
Dalam perjalanan menuju Cigajebo cukup banyak hal-hal yang begitu menakjubkan,
mulai dari rumah kembar suku Baduy, kegiatan menenun masyarakat Baduy yang
hampir dilakukan di setiap teras rumah, keunikan baju adat hingga sebuah
jembatan yang ‘gila’ keren banget.
Foto di atas adalah foto saya dan tim perjalanan
saya. Jembatan ini terdapat di Desa Cigajebo. Jembatan yang merupakan hasil
gotong royong seluruh masyarakat Baduy. Berdasarkan hasil peng-kepo-an saya alias tanya-tanya kepada
masyarakat setempat, jembatan tersebut dibangun hanya membutuhkan waktu 5 jam.
WAW… keren banget, jembatan yang begitu besar dan tersusun rumit tersebut hanya
dibuat dalam waktu 5 jam. Ajiiibbb….
Akhirnya malam-pun tiba, malam pertama di Baduy
cukup seru. Di Baduy tidak terdapat listrik, so dinginnya Baduy pun juga ditemani gelap pekatnya malam tanpa
cahaya, hanya bulan yang setia bersinar. Dan kami baru mengetahui jika jam
19.00 itu sudah jam malam, sudah tidak ditemukan manusia berkegiatan alias
sudah tidur di rumah masing-masing. Tidur di rumah panggung dengan beralaskan tikar
dan berselimut jaket ala kadar-nya menghantarkan kami pada lelap.
Keesokan harinya, perjalanan session 2 dimulai. Kami melanjutkan perjalanan berikutnya ke
wilayah Baduy Dalam tepatnya di Desa Cibeo. Kami berangkat pukul 08.00 dan
meninggalkan Desa Cigajebo yang sudah banyak kami dapati asap dapur mulai
mengepul dari rumah-rumah.
Dengan tenaga lebih ekstra dari pada hari pertama,
akhirnya kami sampai di Cibeo salah satu desa di Baduy Dalam selain Cikeusik
dan Cikartawana. Di Cibeo kami mendatangi rumah Pak Naldi, seorang yang sudah
biasa menjadi guide untuk orang-orang
kepo seperti kami. Sambutan yang
ramah dengan senyum dan sajian santapan sederhana Baduy membuat kami merasa
senang dan nyaman. Banyak canda dan berbagi cerita antara kami dan Pak Naldi
sekeluarga. Dan ternyata Pak Naldi beserta kawan-kawannya pernah 2 kali ke FIB loh. WAW… jalan kaki ke kampus kita dari
Baduy. Ajiiibb…
Sedikit
analisis saya tentang perbandingan fisik kondisi Baduy Dalam dan Luar;
Rumah panggung ala Baduy Dalam dan Luar berbeda, rumah panggung Baduy Dalam
mempunyai panggung yang sedikit lebih tinggi. Gaya arsitektur dan pengaturan
rumah lebih sederhana dari rumah panggung Baduy Luar. Masyarakat suku Baduy
Dalam menggunakan pakaian serba putih dan Baduy Luar serba hitam. Orang yang
menguasai bahasa Indonesia (bahasa nasional) lebih banyak terdapat di Baduy
Dalam, hal ini diprediksi karena diduga lebih banyak turis yang bertujuan ke
Baduy Dalam. Pada Baduy Dalam tidak dijumpai kegiatan menenun seperti Baduy
Luar. Masyarakat suku Baduy Dalam tidak diperbolehkan mengendarai kendaraan
bermesin, alias on foot every where.
Selain perbedaan fisik, saya juga mendapatkan
cukup informasi mengenai aturan adat. Aturan adat di Baduy Dalam lebih ketat,
misalnya; dilarang menggunaan bahan kimia (sabun mandi dan cuci sekalipun),
dilarang merokok, dan yang cukup penting bagi turis adalah dilarang mengambil
foto di Baduy Dalam. Humm... padahal keindahan area Baduy Dalam pasti menggoda
turis untuk men-jepret-nya.
Puas menikmati keindahan dan keharmonisa alam dan
manusia di Baduy Dalam, kami memutuskan untuk kembali pulang ke Cigajebo.
Suguhan alam kembali kami nikmati dan hayati.
Kicauan burung kembali menyambut pagi kami, saatnya
pulang ke Depok. Setelah berpamitan, kami bergegas menuju pintu gerbang
Coboleger. Di pintu gerbang ternyata ada dua Bapak dari kampung Baduy Luar
(maaf lupa namanya), mereka berdua sengaja ke pintu gerbang untuk mengantarkan
dan say good by kepada kami. Waktu
itu saya ingin menangis karena terharu. J
Baduy, penuh kenangan!
Masyarakat
baduy tidak mengenyam pendidikan formal, mereka tidak bersekolah, mereka tidak
bisa baca tulis
Tapi
mereka sangat hebat, mereka belajar dari alam, mereka memahami alam, bersahabat
dengan alam, dan cerdas karena alam
Mereka
tidak penah merasa kurang, mereka mensyukuri apa yang mereka dapat, tidak ada
iri dengki, yang ada hanya saling berbagi
---Ayo
kembali ke alam, Ayo belajar dari Baduy ---
“Visit
Baduy, jangan kalah ama turis2 luar negeri”
______*
Norma Rizkiananingrum
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya’10
Biasanya dipanggil Kiki, orang kesatu di KKB FIB UI.
Orang bilang ia sangat aktif dan tegas. Meskipun kadang nggak jelas.



No comments:
Post a Comment