Budaya, Bahasa, dan Potensi Negara
(wawancara dengan Ibu Nanny Sri Lestari, M.Hum)
Ibu Nanny Sri Lestari,
dosen Program Studi Jawa, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas
Indonesia, merupakan salah satu pemerhati kebudayaan. Pada edisi perdana, Pendar
Budaya meminta beliau untuk sedikit membagikan pemikirannya tentang Budaya dan
Negara. Wawancara yang dilakukan di Gedung 3 FIB UI ini memunculkan satu
kesadaran baru. Bahwa potensi budaya datangnya dari bahasa.
Budaya bukan sesuatu yang
bisa dipegang, bukan pula sebuah produk yang dapat dipakai, seperti sepatu.
Untuk itu, tidak mudah untuk mendefinisikan sebuah kebudayaan, apalagi
kebudayaan Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan adat istiadat. Sejarah
panjang bangsa Indonesia berperan dalam membentuk budaya Indonesia melalui
keadaan sehingga kita harus berhati-hati ketika menjelaskan tentang budaya
Indonesia.
Sebagai negeri yang
heterogen, bangsa Indonesia memiliki bermacam-macam budaya. Berbagai daerah di
Indonesia memiliki budaya sendiri-sendiri yang selanjutnya disebut budaya
daerah. Lalu dimana budaya Indonesia? Perlu disadari bahwa semua budaya yang
tergabung dalam wilayah NKRI adalah budaya Indonesia. Budaya itu begitu luas, bahkan dari segi bahasa pun
dapat diperhitungkan sebagai budaya Indonesia. Menurut wanita kelahiran Bali,
28 Juni ini, budaya Indonesia adalah budaya yang sedang tren pada
zamannya. Sementara budaya daerah merupakan budaya yang diwariskan turun
temurun dari nenek moyang masing-masing daerah.
Kalau berbicara mengenai kualitas budaya, tiap-tiap budaya
memiliki nilai dan warisan leluhur masing-masing. “Jadi saya tidak bisa mengatakan (budaya-red) ini lebih hebat dari yang lain.” Perubahan budaya secara global berpengaruh
pada budaya lokal, tetapi tetap saja mengubah budaya daerah
itu sulit.
Ibu Nanny mencontohkan, budaya orang Jawa “kalau belum makan nasi ya
belum makan” sudah mengakar pada
masyarakat Jawa. Oleh sebab itu, untuk membuat sebuah kebijakan pemerintah
harus tahu betul bagaimana keadaan budaya dan kondisi masyarakat di suatu
daerah.
Setiap daerah memiliki
ciri khas yang selanjutnya membentuk suatu kebudayaan, seringkali ciri khas ini
dianggap meresahkan. Padahal ciri khas suatu daerah ini justru harus
dikembangkan dan sama sekali tidak merepotkan. Upaya mengenalkan sebuah obat
untuk mencegah suatu penyakit tertentu di Papua, dapat dijadikan contoh. Apakah
Departemen Sosial sudah tahu di Papua ada obat tradisional apa yang bisa
mengobati luka? Pemerintah harus bertanya terlebih dahulu bagaimana kebiasaan
warga setempat dalam mengobati sebuah penyakit menggunakan ramuan tradisional.
Selanjutnya, barulah dapat dikembangkan penyelesaian selanjutnya.
Budaya yang berkembang saat ini,
dari kacamata Ibu Nanny sebagai wanita Indonesia dan orangtua, mendapat pengaruh yang hebat dari perkembangan teknologi.
Bangsa kita adalah bangsa yang konsumtif. Teknologi menjadikan kita ketergantungan pada satu
alat. Sisi baiknya, kita tidak perlu berkomunikasi langsung dengan orang lain. Sayangnya, ada
sisi buruk yang lebih menonjol, orang tidak lagi punya sifat kebersamaan. Gugur gunung lingkungan yang ada perlahan hilang dan kebersamaan
menjadi sebuah kemunafikan. Bisa saja
tetangga tidak tahu keadaan kita, tapi orang yang lebih jauh malah tahu. Sekarang semua orang ingin yang serba instan, terkenal dengan instan sampai makan makanan yang
instan.
Anis Baswedan, adalah budayawan yang memiliki ide untuk mengajak
orang-orang hebat untuk mengajar secara sukarela ke daerah-daerah di Indonesia,
bahkan sampai pelosok. Idenya sangat bagus dan memiliki konsep yang matang.
“Walaupun usaha ini belum tentu memberikan pemerataan di 5 tahun ke depan, saya
sangat sejutu dengan usahanya.” Pertama, yang harus dilakukan bukan membangun
fisik daerah terlebih dahulu melainkan pemikiran anak-anaknya.
Budaya dan negara itu ibarat sebab
dan akibat, keterkaitannya tumpang tindih. Hal itu jelas mempengaruhi keadaan, dan yang menjadi doa kita pastinya jika
hubungan budaya dan negara dapat memperbaiki keadaan. Kita tidak bisa
menyamakan suatu kebudayaan sama dengan kebudayaan yang lain. Jadi harus ada
pemerataan fasilitas untuk
mengembangkannya. Perkembangan Indonesia tidak dapat dibandingkan dengan Amerika, Jepang.
Kita punya budaya, alam, dan situasi sendiri. Kita tidak bisa memiliki satu
komando jalan. Semuanya berawal dari Bahasa Indonesia. Kembangkan Bahasa
Indanesia di Indonesia. Di daerah-daerah, bahasa lokal masih sangat kental
penggunaannya. “Untuk mencapai konsep yang sama mengenai budaya Indonesia
sampai ke daerah-daerah, pengetahuan mengenai bahasa Indonesia itu yang
penting, Karena potensi budaya datangnya dari bahasa” tutup Bu Nanny.
(Suci-Inay)

No comments:
Post a Comment