Wednesday, 18 April 2012

Wawancara | Pendar Budaya #1


Budaya, Bahasa, dan Potensi Negara
(wawancara dengan Ibu Nanny Sri Lestari, M.Hum)

            Ibu Nanny Sri Lestari, dosen Program Studi Jawa, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, merupakan salah satu pemerhati kebudayaan. Pada edisi perdana, Pendar Budaya meminta beliau untuk sedikit membagikan pemikirannya tentang Budaya dan Negara. Wawancara yang dilakukan di Gedung 3 FIB UI ini memunculkan satu kesadaran baru. Bahwa potensi budaya datangnya dari bahasa.
            Budaya bukan sesuatu yang bisa dipegang, bukan pula sebuah produk yang dapat dipakai, seperti sepatu. Untuk itu, tidak mudah untuk mendefinisikan sebuah kebudayaan, apalagi kebudayaan Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan adat istiadat. Sejarah panjang bangsa Indonesia berperan dalam membentuk budaya Indonesia melalui keadaan sehingga kita harus berhati-hati ketika menjelaskan tentang budaya Indonesia.

            Sebagai negeri yang heterogen, bangsa Indonesia memiliki bermacam-macam budaya. Berbagai daerah di Indonesia memiliki budaya sendiri-sendiri yang selanjutnya disebut budaya daerah. Lalu dimana budaya Indonesia? Perlu disadari bahwa semua budaya yang tergabung dalam wilayah NKRI adalah budaya Indonesia. Budaya itu  begitu luas, bahkan dari segi bahasa pun dapat diperhitungkan sebagai budaya Indonesia. Menurut wanita kelahiran Bali, 28 Juni ini, budaya Indonesia adalah budaya yang sedang tren pada zamannya. Sementara budaya daerah merupakan budaya yang diwariskan turun temurun dari nenek moyang masing-masing daerah.
            Kalau berbicara mengenai kualitas budaya, tiap-tiap budaya memiliki nilai dan warisan leluhur masing-masing. “Jadi saya tidak bisa mengatakan (budaya-red) ini lebih hebat dari yang lain. Perubahan budaya secara global berpengaruh pada budaya lokal, tetapi tetap saja mengubah budaya daerah itu sulit. Ibu Nanny mencontohkan, budaya orang Jawa kalau belum makan nasi ya belum makan” sudah mengakar pada masyarakat Jawa. Oleh sebab itu, untuk membuat sebuah kebijakan pemerintah harus tahu betul bagaimana keadaan budaya dan kondisi masyarakat di suatu daerah.
            Setiap daerah memiliki ciri khas yang selanjutnya membentuk suatu kebudayaan, seringkali ciri khas ini dianggap meresahkan. Padahal ciri khas suatu daerah ini justru harus dikembangkan dan sama sekali tidak merepotkan. Upaya mengenalkan sebuah obat untuk mencegah suatu penyakit tertentu di Papua, dapat dijadikan contoh. Apakah Departemen Sosial sudah tahu di Papua ada obat tradisional apa yang bisa mengobati luka? Pemerintah harus bertanya terlebih dahulu bagaimana kebiasaan warga setempat dalam mengobati sebuah penyakit menggunakan ramuan tradisional. Selanjutnya, barulah dapat dikembangkan penyelesaian selanjutnya.
            Budaya yang berkembang saat ini, dari kacamata Ibu Nanny sebagai wanita Indonesia dan orangtua, mendapat pengaruh yang hebat dari perkembangan teknologi. Bangsa kita adalah bangsa yang konsumtif. Teknologi menjadikan kita ketergantungan pada satu alat. Sisi baiknya, kita tidak perlu berkomunikasi langsung dengan orang lain. Sayangnya, ada sisi buruk yang lebih menonjol, orang tidak lagi punya sifat kebersamaan. Gugur gunung lingkungan yang ada perlahan hilang dan kebersamaan menjadi sebuah kemunafikan. Bisa saja tetangga tidak tahu keadaan kita, tapi orang yang lebih jauh malah tahu. Sekarang semua orang ingin yang serba instan, terkenal dengan instan sampai makan makanan yang instan.
            Anis Baswedan, adalah budayawan yang memiliki ide untuk mengajak orang-orang hebat untuk mengajar secara sukarela ke daerah-daerah di Indonesia, bahkan sampai pelosok. Idenya sangat bagus dan memiliki konsep yang matang. “Walaupun usaha ini belum tentu memberikan pemerataan di 5 tahun ke depan, saya sangat sejutu dengan usahanya.” Pertama, yang harus dilakukan bukan membangun fisik daerah terlebih dahulu melainkan pemikiran anak-anaknya.
            Budaya dan negara itu ibarat sebab dan akibat, keterkaitannya tumpang tindih. Hal itu jelas mempengaruhi keadaan, dan yang menjadi doa kita pastinya jika hubungan budaya dan negara dapat memperbaiki keadaan. Kita tidak bisa menyamakan suatu kebudayaan sama dengan kebudayaan yang lain. Jadi harus ada pemerataan fasilitas untuk mengembangkannya. Perkembangan Indonesia tidak dapat dibandingkan dengan Amerika, Jepang. Kita punya budaya, alam, dan situasi sendiri. Kita tidak bisa memiliki satu komando jalan. Semuanya berawal dari Bahasa Indonesia. Kembangkan Bahasa Indanesia di Indonesia. Di daerah-daerah, bahasa lokal masih sangat kental penggunaannya. “Untuk mencapai konsep yang sama mengenai budaya Indonesia sampai ke daerah-daerah, pengetahuan mengenai bahasa Indonesia itu yang penting, Karena potensi budaya datangnya dari bahasa” tutup Bu Nanny.

(Suci-Inay)

No comments:

Post a Comment