Tegal, 1996
Indonesia tanah
airku
Tanah tumpah
darahku
Di sanalah aku
berdiri jadi pandu ibuku
Indonesia
kebangsaanku, bangsa dan tanah airku
Marilah kita
berseru
Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku,
hiduplah negeriku
Bangsaku, rakyatku
semuanya
Bangunlah jiwanya,
bangunlah badannya untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya
merdeka merdeka
Tanahku negeriku
yang kucinta
Indonesia Raya
merdeka merdeka
Hiduplah Indonesia
Raya
Indonesia Raya
merdeka merdeka
Tanahku negeriku
yang kucinta
Indonesia Raya
merdeka merdeka
Hiduplah Indonesia
Raya
Latief selesai menyanyikan lagu
kebangsaan karangan W.R. Supratman itu selaras dengan sampainya sang Saka
menyentuh ujung tiang. Ia menurunkan hormatnya kemudian memperhatikan embahnya
yang merupakan bekas tentara Heiho bentukan Jepang mulai dari mengikatkan tali
pada tiang sampai memosisikan tubuhnya ke sikap sempurna sembari memberi hormat
pada Merah Putih yang telah sukses ia kibarkan.
“Latip,”
“Dalem Mbah”
“Jangan pernah sepelekan Sang Saka
Merah Putih kita, kerena untuk dapat mengibarkan dengan bebas sepereti sekarang
butuh perjuangan yang sangat panjang!”
“Iya Mbah, kalau besar nanti Latip
mau jadi pengibar bendera!”
“Bagus! Bagus sekali cucuku! Mbah
dukung cita-cita luhurmu itu, jaman sekarang jarang sekali pemuda yang peduli
untuk mengibarkan Sang Merah Putih, padahal sejak 17 Agustus 1945 kita sudah
berhak seberhak-berhaknya membanggakannya di atas tiang.”
“Latip mau ngibarin Merah Putih,
Latip mau seperti Mbah!”
Mbah Karman lalu membungkukkan tubunya
yang sudah bungkuk, menatap tajam ke arah Latip, ia terharu mendengar penuturan
cucu kebanggaannya itu.
“Latip, kau lahir tanggal 17 Agustus,
tangisanmu melengking tepat saat Mbah selesai menurunkan bendera. Hari Sabtu!
Ya, Mbah ingat betul, begitu mendengar tangisan pertamamu Mbah langsung yakin
kelak kau akan menjadi pemuda Indonesia yang tangguh.”
Latief tersenyum polos.
“Kamu tahu kenapa Mbah memberimu nama
Latip Hendraningrat?”
“Karena Latip Hendraningrat adalah
orang pertama yang mengibarkan Bendera Merah Putih pada hari kemerdekaan RI,
hari Jumat, jam sepuluh di kediaman Bung Karno bersama rekannya Suhud.”
Latief kecil tersenyum lagi, kali ini
sepintas mirip seringai. Dalam benaknya kala itu terbesit kuat untuk dapat
menjadi Latief Hendraningrat selanjutnya.
“Ini anak saya mau bikin akte kelahiran Pak,
namanya Latip Hendraningrat, lahir tanggal 16 Agustus 1991”
“Ibu! Latip lair tanggal 17 Agustus!”
“Latip, kamu itu lahirnya tanggal 16
bukan 17”
“Gak mau! Kata Embah Latip lahirnya
tanggal 17 Agustus, hari Sabtu! Latip gak mau lahir tanggal 16! Titik!”
“Aduuuh, maaf Pak, sebentar” ibu
membawa Latip keluar ruangan.
“Sayang, Latip itu lahirnya hari
jumat tanggal 16 Agustus 1991 jam lima sore., ibu ingat sekali kok”
“Bukan Jumat ibu… Latip lahir hari Sabtu!”
Ibu mendengus, ia paham polemik yang
sedang dihadapi. Menurut perhitungan masyarakat Jawa kuno, apabila sudah
melebihi pukul 16.00 maka sudah berganti hari selanjutnya. Seperti kasus Latief
ini, menurut kalender nasional ia memang lahir hari Jumat pukul 17.00. namun,
menurut orang tempo dulu macam Mbah Karman saat itu sudah masuk hari Sabtu.
“Pokoknya Latip gak mau sekolah kalo
lairnya gak tanggal 17 Agustus! Titik!”
Ibu menyerah.
“Latip, ngangsu
kolam!”[1]
“Iya bu…”
Latief menuju ke
sumur berkatrol di rumahnya, di Tegal biasa disebut kerekkan, istilah ini
muncul lantaran setiap katrol berputar akan menimbulkan bunyi
“kreek…kreek…kreek”. Cara kerjanya seperti pada katrol kebanyakan, tali[2]
yang satu ujungnya dikaitkan dengan ember dan dimasukan dalam bibir katrol
sementara pada ujung yang lain diikatkan pada tiang penyangga. Ketika ember
telah terisi penuh maka orang tinggal menarik sisi lain tali dan menariknya ke
permukaan. Jika diperhatikan prosesnya hampir sama dengan pengibaran bendera,
tiang penyangga yang disertai katrol dianggap sebagai tiang bendera sedangkan
ember bisa dianalogikan sebagai benderanya. Maka, pepatah “Tiada rotan akar pun
jadi“ pun diamini Latief, tak ada bendera, ember pun jadi. Ia mengimajinasikan hal itu, tugas mengangsu
yang melelahkan dibuatnya menarik dengan membayangkan dirinya sedang berada di
tengah lapangan untuk mengibarkan bendera merah putih kebanggaan kita.
“Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku.Bangsaku,
rakyatku semuanya…Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia
Raya..!” Latief bernyanyi dengan sikap sempurna meski dirinya hanya sedang
menimba air di sumur.
“Latip!
Gagiyan, aja tembangan bae… wis sore”[3]
lagi-lagi suara lantang ibu memecah bayangannya.
“Iiiih…ibu!”
Latief mendengus kesal, tetapi tetap melanjutkan
“Indonesia Raya merdeka merdeka…Tanahku negeriku yang
kucinta…Indonesia Raya merdeka merdeka…Hiduplah Indonesia Raya!”
Di tengah lapangan Latief Hendraningrat menjadi pusat
perhatian, sikap tegapnya dalam mengibarkan bendera kebangsaan mendapat decek
kagum banyak orang. Lagu Kebangsaan yang mengiringinya selesai tepat ketika
bendera sampai di ujung tiang, selaras. Tepuk tangan penonton bergemuruh.
Tiba-tiba…..
BYURRR!!!! Ember yang sudah sampai di ujung katol itu
menumpahkan seluruh isinya ke tubuh Latief.
Tegal, 2007
Di tahun ini Latief
sudah berusia 16 tahun, ia diterima di SMA N 1 Tegal, sekolah terfavorit di
kotanya. Setahun yang lalu Mbah Karman menghadap Sang Khaliq, sejak saat itu
tugas mengibarkan dan menurunkan bendera di halaman rumahnya beralih padanya.
Seperti jamannya
kecil dulu, impiannya tak pernah surut, ia masih bercita-cita ingin mengibarkan
Sang Saka Merah Putih di Istana Merdeka! Dan peristiwa ketumpahan air ember pun
selalu terulang setiap ia membayangkan dirinya menjadi pengibar yang
sesungguhnya.
BYURRR!!!!
“Amak-amak kaya kue iz kiye bocah, mugane yen nimba aja
karo ngelamun!”[4]
Latief yang basah kuyup merengut.
“Bu, ini Latip lagi latian, besok di sekolah Latip ada
pemilihan pasukan jupul.”
“Jupul? Apa kuwe?”[5]
“Jupul itu pasukan tuJUhPULuh bu…pasukan pengibar
bendera di acara tujuhbelasan ntar, jumlah pasukannya ada tujuh puluh sesuai
dengan tanggal tujuh belas, bulah delapan, tahun empat lima. Kalo dijumlah
semua jadi tujuh puluh!”
“Lha?? Wong kowen pendek ka, masa pan melu kaya kuwe?”[6] “Namanya juga usaha bu, lagian aku gak
pendek-pendek amat ko.”
“Tinggi badanmu 155
aja gak ada, setahu ibu kalau pasukan-pasukan itu biasanya tinggi besar.”
“Wis lah, ora usah
reka-reka… gari ngerek bendera ngarep umah seben esuk sore be…”[7]
“Aah..ibu, malu dong sama nama… Latief Hendraningrat itu pengibar
bendera pusaka pada hari kemerdekaan RI bu..”
“Karepmu lah,”[8]
Syarat
utama menjadi seorang pasukan memang tinggi badan, minimal 160 cm untuk putra
dan 155 untuk putri. Untuk bisa menjadi pasukan putri saja Latief belum bisa
diterima apalagi untuk seorang putra? Tingginya hanya 153 cm. Teknik baris-berbaris yang cukup baik dan
kedisiplinan tinggi yang dimiliki Latief membuat Pak Mulyo yang menilai dibuat
bingung, apalagi sikapnya yang kukuh dan pantang menyerah ditambah
keseriusannya dengan selalu menjadi peserta yang datang paling awal.
“Baiklah,
kamu saya terima.”
“Bener
Pak?? ALHAMDULILLAH YA ALLAH…” Latief girang tak kepalang.
“Tapi
hanya sebagai pasukan empat lima, di baris paling akhir, shaf paling kiri.”
Latief
terdiam sejenak, lalu tanpa sadar ia memeteskan air mata. Sambil terisak ia
berkata “ Ja…jadi saya gak jadi pengibar?”
Pak
Mulyo mengiba melihat semangat bocah kecil itu untuk mengibarkan Sang Merah
Putih.
Di
baris paling akhir Latief nampak harmonis sebagai penutup barisan. Ia tunjukkan
profesionalitasnya, meski harapannya menjadi pengibar pupus ia tak sedikitpun
menggubah kebagusan baris-berbarisnya, semanggat itu tetap terlihat jelas.
Ketika pengibar di depan sana menaikkan
Merah Putih dan lagu kebangsaan menggema tangguh, bocah di baris dan deret
paling akhir itu menangis. Ia membiarkan tangisnya keluar tanpa diusap sama
sekali, tangan kanannya tetap hormat dan tangan kirinya tak goyah pada posisi
sempurnanya.
Meskipun tubuhnya kalah dengan
teman-temannya, Latief termasuk anggota Pastissa (Pasukan Inti Smansa[9])
yang hampir tak pernah absen. Ia begitu disegani, beberapa terkadang ada yang
merasa kasihan padanya, seorang pemuda yang begitu mencintai negaranya gagal
mewujudkan impiannya yang mulia. Tahun berikutnya Pak Mulyo kembali hambar,
seleksi paskibra tingkat kota sudah di depan mata, dan ia harus kembali menelan
pil pahit ketika harus mengatakan “Tidak.” pada bocah yang semangatnya tak
pernah luntur itu.
Perkataan Pak Mulyo menyadarkan
Latief akan kekurangan yang dimilikinya. Setiap pagi, selesai ia menaikkan
Merah Putih di halamannya, setelah menurunkan hormatnya, ia akan berteriak
lantang.
“Hey!! Sang Merah Putih yang Perkasa!
Aku memang bukanlah manusia sempurna yang layak mengibarkanmu di hadapan dunia.
Tapi, asal kau tahu Wahai Berndera Bangsaku! Kau! Akan selalu berkibar di
dadaku!”
Tegal, 17 Agustus
2008
Lagu kebangsaan Indonesia Raya nan
agung menggema di seluruh bumi nusantara. Di alun-alun Kota Tegal Sang Merah
Putih cemburu karena masyarakat yang tiap tahun rela berjejal di tepian
alun-alun hanya untuk menghormatinya sampai ke ujung tiang kini harus membagi
perhatiannya pada bocah yang
mengharu-biru di sudut sana . Bocah yang telah semangatnya tak luntur sedikitpun
untuk mngibarkannya pada dunia. Bocah merana yang memandang lekat-lekat manusia
paling beruntung di depan sana yang sedang mengibarkan dirinya ke ujung
penghormatan, Latief Hendraningrat. Detik itu juga disaksikan tangisnya Latief
menyerah, impiannya tak kan mampu lagi ia penuhi, ia harus cukup bangga dengan
mengibarkan bendera yang selalu berkobar di hatinya di halaman rumahnya.
17 Agustus 2034,
Alun-alun Kota Tegal
Setelah
bertahun-tahun menjadi perhatian tunggal, di tahun ini Sang Merah Putih kembali
dilanda cemburu. Latief dewasa menyita perhatian masyarakat lagi dengan
tangisnya. Lagi.
Latief
menangis, kali ini adalah tangisan bangga seorang pemimpi yang menyaksikan
manusia paling berharga di depan sana sedang mengibarkan Bendera Agung Merah Putih,
adalah putra kebanggaannya, Suhud, rekan sejati Latief Hendraningrat dalam
mengibarkan Merah Putih setelah pembacaan proklamasi.
[1] Ngangsu kolam =
mengisi kolam / bak air dengan air
[2] Tali yang
digunakan berupa karet
[3] “Latip,
cepetan, jangan bernyanyi terus, sudah sore!”
[4] “ Selalu begitu
deh ni anak, makanya kalau menimba
jangan sambil nglamun!”
[5] Apa kuwe = apa
itu,
[6] “Lha? Orang
kamu pendek, masa mau ikut kaya gituan?”
Kaya
kuwe = seperti itu, pernah ada saudaraku dari Jakarta menyebut Kota Tegal kaya
akan kue (kaya kue) karena kata
ini hampir muncul di setiap ujung kalimat orang Tegal asli.
[7] “Sudahlah,
tidak usah macam-macam, tinggal naikin bendera depan rumah tiap pagi dan sore
aja….”
[8] “Terserah lah,”
[9] Smansa,
singkatan dari SMA N SAtu

No comments:
Post a Comment