Pojok Sastra


DOA

Ternyata jalan itu panjang,
berliku dan membingungkan
Kerikil di kaki ini menusuk menyakitkan
Batu besar menghancurkan
Cahaya hidupku redup, kian redup kian hari
Angin malam tiada berkawan,
Berbisik ia memberi tahu
Kataku membalas: aku tahu, walau tak terdengar olehku, doa-doamu
terpanjat setiap waktu untukku.
___
Yusi Nurcahya Dewi
Sastra Jawa, Universitas Sebelas Maret.


___________________(-0-)___________________


Puisi Selendang Sulaiman

Puisi Menulis Penyair
            ­-Ode Chairil Anwar

Luka itu telah aku sempurnakan padamu
Dengan nyeri yang tumbuh di rusuk waktu

Luka itu telah aku kabarkan di telinga hutan belukar
Dengan ngiang duri-duri bibirmu yang lapar

Luka itu luka air lukamu di perut binatang buas
Merambati sungai-sungai bening mengalir pedas

Lukamu mengaum sepanjang malam
Di taring srigala berbulu embun pemburu kelam

Luka itu luka kekal untuk seribu tahun hidupmu
Dengan nyeri purnama dan anggur berdebu deru

Tanpa api ayat-ayat lidah aku berdoa senantiasa
Dan kan kubakar sedu sedan itu demi mesesta masa

Yogyakarta, April 2012  

Hikayat Ayat Penyair
            ­-Terkenang WS. Rendra alm.

Ayat-ayat hikayat sang hayat
Melingkar ular di lubuk mata tersayat
Huruf-huruhnya menjalma api
Menjalari sampah-sampah janji

Tetapi sepadam api
Arang tak gagal menjadi abu

Lalu yang hitam dan legam
Menjadi suara gentayangan
Dari dada gusar seorang pemimpi
Dari mulut malam bergerigi

Yogyakarta, Januari 2012

Selendang Hujan

Angin mendesir di kepala
Bisikan daun lembab dilumat bebatuan

Dari senar gitar yang putus terdenting
Bunga-bunga liar bersiul semacam luka

Sementara hujan merintik sebentar-sebentar
Menyaksikan opera langit berpesta kegelapan

Segelas puisi tumpah dari tangan gemetar
Kata-kata berserak musnah ke dalam hutan

Terasa sepoi angin datang membelai bebatuan
Dan rintik seperti jarum manusuk bunga-bunga

Yang luka meneteskan darah di kepala
Menderaskan air payau di bibir penyulam selendang

Kebun Laras, Januari 2012

Aku Berdaya Tanpa Ada Kamu

Aku berdaya tanpa ada kamu kekasih
Tetapi kelemahan besar raga-jiwaku jika kau tak ada
Benar aku cinta kamu setiap saat tanpa melihatmu
Tetapi sungguh  aku tak yakin bisa tersenyum saat kau disana

Cinta ini sudah benar bertengger di puncak gunung hati ini
Bermagma, di penuhi lempeng-lempeng rindu
Memanggil hujan dan matahari untuk kehidupan
Aku disini serupa pohon kaktus tanpa air dan sinarmu

Cintamu ini tersiksa bila tak bersamping pinggang denganmu
Akan mencari adamu untuk sekedar bertukar nafas dan mata
Aku melihatmu dari jauh dan dekat demi cinta yang aneh
Aku tidak akan pergi dari dekatmmu jika ada senyum di bibirmu

Aku datang untuk menemui kepingan hati yang sudah lengkap
Itulah hadirmu yang tepat waktu dan tak kusadari kesalahan waktuku
Begitu cinta merayap dari hutan malam menyerbuku dengan buas
Kau menjinakkannya dengan sayap-sayap embun di bulu matamu

Aku takluk pada cintamu
Takluk akan daya cintaku
Tapi aku kuasa atas cintamu
Cintaku yang mengaum srigala

G’bol, 21 April 2012

Buat Yang Seperti Menjauh

ada apa dengan lebah-lebah di taman itu
berkerumun semacam musyawarah genting
padahal bunga-bunga masih segar dan menawan
matakukah yang sudah suram karena madunya?

duh, lenganku berdarah lagi rupanya
nyeri tersenyum dari jarak yang tak kupahami
jarak yang tiba-tiba saja membentang usai gerimis
bermanik-manik bening di rambutnya

terbanglang jauh, terbanglah sayap-sayapku
awasi duri-duri yang menusuk lenganku
biar darah tak juga muncrat dari lengan yang lain
sebab aku sudah lemah meski berdaya atas syair

 Kebun Laras, 21 April 2012

Buat Yang Seperti Menjauh II

sore ini aku menunggu petang dengan rambut tergerai
membawa pecahan kaca yang menggaris telapak tangan
ada isyarat tak terbaca resap menderas arus darah
sedingin pagi mengusap ubun-ubun ingatan yang retak

sungguh aku menunggu petang dengan rerindu
di tiap-tiap lembar rambutku yang kian menjarum
menusuk-nusuk penggung dan nyeri mendekap
dari segala arah mata angin; bumi dan langit

Kebun Laras, 22 April 2012

Selendang Sulaiman, Lahir di Pajhagungan, gapura, Sumenep 1989. Mahasiswa Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Puisinya dimuat diberbagai Media Masa: Seputar Indonesia, Suara karya, Metro Riau, Majalah Literasia, Advo-pos, Jurnal Maddana, Buletin Sampan. Dan beberapa antologi bersama; Sang Penyair (Perpust Press 2007), Mazhab Kutub (Pustaka Pujangga 2010), 50 Penyair Membaca Jogja; Suluk Mataram (MP 2011), Bima Membara (Halaman Moeka 2012), Presidin Untuk Presidenku (SANY Publishing 2012), Jembatan Sejadah (SP 2012). Saat ini selain mengelola Divisi Satra di Sanggar Nuun Yogyakarta kua menjadi Lurah Sanggar Jepit Yogyakarta.


No comments:

Post a Comment