Sedekah
Laut: Gelar Budaya di Pantai Selatan sebagai Adat Nelayan Kebumen
oleh: Wahyubea*
Bagi beberapa kalangan, nama Kebumen mungkin kedengaran asing.
Padahal, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah
ini merupakan gudang pariwisata baik wisata sejarah, alam, kuliner, maupun seni dan budaya. Di Kebumen
masih banyak dijumpai kegiatan pelestarian budaya, seperti pagelaran seni dan
budaya lokal. Menarik bukan? Jika pembaca tertarik untuk berberkunjung ke
Kabupaten Kebumen saya jamin dan pastikan tidak akan merasa bosan deh!
Kebumen
merupakan sebuah kabupaten yang terletak di bagian selatan Jawa Tengah,
Indonesia. Seperti halnya daerah-daerah di Indonesia yang mempunyai latar
belakang kultur budaya dan sejarah yang berbeda-beda, Kabupetan Kabumen juga
memiliki sejarah tersendiri. Dalam historiografi penulisan sejarah Kabupaten
Kebumen sendiri memilki banyak versi dan banyak pendapat, namun jika ditarik
benang merahnya dapat dikatakan bahwa awal mula adanya Kebumen tidak dapat
dipisahkan dari kerajaan Mataram Islam.
Hal ini disebabkan oleh adanya beberapa
keterkaitan peristiwa semasa kerajaan Mataram yang membawa pengaruh bagi
terbentuknya Kebumen. Di dalam struktur kekuasaan Mataram, lokasi Kebumen
termasuk di daerah Mancanegara Kulon (wilayah Kademangan Karanglo) yang masih
di bawah kekuasaan Mataram. Dengan demikian, Kebumen tidak hanya memiliki
potensi pariwisata, kesenian, adat dan tradisi lokal, tetapi juga memilki
sejarah yang panjang dalam pembentukannya.
Lokasi geografis Kebumen yang berada di selatan
Jawa Tengah yang langsung berhadapan dengan samudra Hindia, menggambarkan bahwa
Kebumen memiliki garis pantai yang memanjang. Hal itu juga bisa dikatakan
sebagai salah satu pemicu yang mendorong banyaknya masyarakat di wilayah
pesisir pantai selatan Kebumen yang hidup dan bermata pencaharian sebagai
seorang nelayan. Menariknya, para nelayan tersebut memiliki tradisi tahunan
yang disebut sedekah laut. Apa itu sedekah laut?
Perjalanan yang pernah saya lakukan di pantai
selatan Kebumen beberapa waktu lalu semoga dapat menjawab pertanyaan tersebut. Perjalanan
sekaligus wisata budaya itu saya lakukan pada Selasa, 13 Desember 2011 di Desa
Rowo, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen akan memberikan sedikit gambaran
penting tentang suatu pagelaran budaya yang dilakukan oleh para nelayan. Sesepuh
nelayan di daerah itu mengatakan bahwa tradisi budaya sedekah laut yang dilakukan oleh para nelayan
pantai selatan di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, menjadi cara kultural para
nelayan dalam meningkatkan rezeki sepanjang setahun.
Selain
ucapan syukur atas rezeki dari laut selama setahun sebelumnya, nelayan juga
berharap akan mendapatkan penghasilan yang lebih baik selama setahun ke depan. Hal
semacam ini menjadi tradisi turun temurun setiap tahunnya. Namun
demikian, beberapa nelayan di wilayah itu mengatakan masih ada yang meyakini
bahwa sedekah laut tersebut, yang berupa sesaji, merupakan bentuk penghormatan
kepada penguasa laut selatan, Ratu Kidul. Sebagian masyarakat Kebumen meyakini
bahwa Ratu Kidul masih kental
hubungannya antara nasib dengan keselamatan dan kelancaran rizki mereka sebagai
nelayan.
Tradisi tahunan sedekah laut ini dilaksanakan
setiap bulan Syuro dalam kalender penanggalan Jawa, yaitu digelar pada hari Jumat
atau Selasa Kliwon. Pada tanggal 13 Desember 2011 lalu, banyak warga, baik dari dalam maupun luar
Kebumen, ikut menyaksikan jalannya prosesi sedekah laut. Antusias warga
terlihat dari banyaknya orang yang membanjiri sis-sisi pantai.
Prosesi sedekah laut tahun 2011 tersebut dipimpin
oleh sesepuh Desa Rowo, Mbah Sastrowiryo. Berawal dengan mengusung jolen
yang berisi aneka sesaji dari rumah Kepala Desa Rowo, Bapak Sarno menuju Tempat
Pelelangan Ikan (tambak ikan) yang berjarak kurang lebih 300 meter. Adanya alat
musik tradisional yang dibunyikan saat arak-arakan menyusuri Sungai Wawar
menambah semarak pagelaran itu. Sesaji yang nantinya akan dilarung ke Laut Selatan
itu antara lain berupa kepala kambing yang dibungkus kain mori, jenang empat
warna, jajanan pasar, kembang setaman, tumpeng tolak, tujuh macam
pisang, tujuh macam buah, ageman sakpengadek, hingga oman ketan
hitam.
Selanjutnya, sesaji kemudian diarak menggunakan
puluhan perahu yang ditumpangi oleh nelayan dan keluarganya menyusuri Sungai Wawar
menuju Pantai Selatan. Laki-laki dan perempuan, orang tua hingga anak-anak para
nelayan ikut naik ke perahu. Camat Mirit, Bapak Irfani S.Sos, juga ikut naik di
atas perahu bersama para nelayan untuk menghormati dan mendukung prosesi yang
dilakukan warganya.
Setiba di
pantai, bermacam-macam sesaji yang telah didoakan itu kemudian dilarung ke
tengah lautan. Saya dan warga lainnya menyaksikan detik-detik larung sesaji
dari bibir pantai. Suasana menjadi sangat tegang ketika beberapa kali perahu
gagal menerobos gelombang besar. Kerap kali usaha perahu-perahu tersebut untuk
masuk ke tengah lautan mengalami rintangan. Warga kemudian bersorak setelah
perahu yang membawa jolen berhasil masuk ke tengah laut dan kemudian
melarung sesaji di tengah laut.
Seperti yang sudah dikatakan oleh sesepuh nelayan
bahwa dalam
prosesi sedekah laut, para nelayan berdoa agar selama setahun kedepan para
nelayan yang kehidupannya menggantungkan kondisi alam itu diberikan kemudahan,
kelancaran, dan keselamatan dalam mencari ikan. Setelah selesai dari prosesi
larung sesaji ditengah laut, para nelayan kembali dengan rute yang sama seperti
saat proses keberangkatan tapi dengan berbalik arah.
______________
*Wahyubea
-- tertarik ke dunia sastra terutama yang menjurus ke ranah politik.
Penggemar Soe Hok Gie ini tinggal di - belakang - Margonda Residence.
Berdasarkan SIAK-NG, status akademiknya masih "Aktif".


No comments:
Post a Comment