Thursday, 5 April 2012

Jelajah Budaya #1

Sedekah Laut: Gelar Budaya di Pantai Selatan sebagai Adat Nelayan Kebumen
 oleh: Wahyubea*


Bagi beberapa kalangan, nama  Kebumen mungkin kedengaran asing. Padahal,  Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah ini merupakan gudang pariwisata baik wisata sejarah, alam,  kuliner, maupun seni dan budaya. Di Kebumen masih banyak dijumpai kegiatan pelestarian budaya, seperti pagelaran seni dan budaya lokal. Menarik bukan? Jika pembaca tertarik untuk berberkunjung ke Kabupaten Kebumen saya jamin dan pastikan tidak akan merasa bosan deh!
 Kebumen merupakan sebuah kabupaten yang terletak di bagian selatan Jawa Tengah, Indonesia. Seperti halnya daerah-daerah di Indonesia yang mempunyai latar belakang kultur budaya dan sejarah yang berbeda-beda, Kabupetan Kabumen juga memiliki sejarah tersendiri. Dalam historiografi penulisan sejarah Kabupaten Kebumen sendiri memilki banyak versi dan banyak pendapat, namun jika ditarik benang merahnya dapat dikatakan bahwa awal mula adanya Kebumen tidak dapat dipisahkan dari kerajaan Mataram Islam.
Hal ini disebabkan oleh adanya beberapa keterkaitan peristiwa semasa kerajaan Mataram yang membawa pengaruh bagi terbentuknya Kebumen. Di dalam struktur kekuasaan Mataram, lokasi Kebumen termasuk di daerah Mancanegara Kulon (wilayah Kademangan Karanglo) yang masih di bawah kekuasaan Mataram. Dengan demikian, Kebumen tidak hanya memiliki potensi pariwisata, kesenian, adat dan tradisi lokal, tetapi juga memilki sejarah yang panjang dalam pembentukannya.

Lokasi geografis Kebumen yang berada di selatan Jawa Tengah yang langsung berhadapan dengan samudra Hindia, menggambarkan bahwa Kebumen memiliki garis pantai yang memanjang. Hal itu juga bisa dikatakan sebagai salah satu pemicu yang mendorong banyaknya masyarakat di wilayah pesisir pantai selatan Kebumen yang hidup dan bermata pencaharian sebagai seorang nelayan. Menariknya, para nelayan tersebut memiliki tradisi tahunan yang disebut sedekah laut. Apa itu sedekah laut?
Perjalanan yang pernah saya lakukan di pantai selatan Kebumen beberapa waktu lalu semoga dapat menjawab pertanyaan tersebut. Perjalanan sekaligus wisata budaya itu saya lakukan pada Selasa, 13 Desember 2011 di Desa Rowo, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen akan memberikan sedikit gambaran penting tentang suatu pagelaran budaya yang dilakukan oleh para nelayan. Sesepuh nelayan di daerah itu mengatakan bahwa tradisi budaya  sedekah laut yang dilakukan oleh para nelayan pantai selatan di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, menjadi cara kultural para nelayan dalam meningkatkan rezeki sepanjang setahun.
 Selain ucapan syukur atas rezeki dari laut selama setahun sebelumnya, nelayan juga berharap akan mendapatkan penghasilan yang lebih baik selama setahun ke depan. Hal semacam ini menjadi tradisi turun temurun setiap tahunnya. Namun demikian, beberapa nelayan di wilayah itu mengatakan masih ada yang meyakini bahwa sedekah laut tersebut, yang berupa sesaji, merupakan bentuk penghormatan kepada penguasa laut selatan, Ratu Kidul. Sebagian masyarakat Kebumen meyakini bahwa  Ratu Kidul masih kental hubungannya antara nasib dengan keselamatan dan kelancaran rizki mereka sebagai nelayan.
Tradisi tahunan sedekah laut ini dilaksanakan setiap bulan Syuro dalam kalender penanggalan Jawa, yaitu digelar pada hari Jumat atau Selasa Kliwon. Pada tanggal 13 Desember 2011 lalu,  banyak warga, baik dari dalam maupun luar Kebumen, ikut menyaksikan jalannya prosesi sedekah laut. Antusias warga terlihat dari banyaknya orang yang membanjiri sis-sisi pantai.
Prosesi sedekah laut tahun 2011 tersebut dipimpin oleh sesepuh Desa Rowo, Mbah Sastrowiryo. Berawal dengan mengusung jolen yang berisi aneka sesaji dari rumah Kepala Desa Rowo, Bapak Sarno menuju Tempat Pelelangan Ikan (tambak ikan) yang berjarak kurang lebih 300 meter. Adanya alat musik tradisional yang dibunyikan saat arak-arakan menyusuri Sungai Wawar menambah semarak pagelaran itu. Sesaji yang nantinya akan dilarung ke Laut Selatan itu antara lain berupa kepala kambing yang dibungkus kain mori, jenang empat warna, jajanan pasar, kembang setaman, tumpeng tolak, tujuh macam pisang, tujuh macam buah, ageman sakpengadek, hingga oman ketan hitam.
Selanjutnya, sesaji kemudian diarak menggunakan puluhan perahu yang ditumpangi oleh nelayan dan keluarganya menyusuri Sungai Wawar menuju Pantai Selatan. Laki-laki dan perempuan, orang tua hingga anak-anak para nelayan ikut naik ke perahu. Camat Mirit, Bapak Irfani S.Sos, juga ikut naik di atas perahu bersama para nelayan untuk menghormati dan mendukung prosesi yang dilakukan warganya.
 Setiba di pantai, bermacam-macam sesaji yang telah didoakan itu kemudian dilarung ke tengah lautan. Saya dan warga lainnya menyaksikan detik-detik larung sesaji dari bibir pantai. Suasana menjadi sangat tegang ketika beberapa kali perahu gagal menerobos gelombang besar. Kerap kali usaha perahu-perahu tersebut untuk masuk ke tengah lautan mengalami rintangan. Warga kemudian bersorak setelah perahu yang membawa jolen berhasil masuk ke tengah laut dan kemudian melarung sesaji di tengah laut.
Seperti yang sudah dikatakan oleh sesepuh nelayan bahwa dalam prosesi sedekah laut, para nelayan berdoa agar selama setahun kedepan para nelayan yang kehidupannya menggantungkan kondisi alam itu diberikan kemudahan, kelancaran, dan keselamatan dalam mencari ikan. Setelah selesai dari prosesi larung sesaji ditengah laut, para nelayan kembali dengan rute yang sama seperti saat proses keberangkatan tapi dengan berbalik arah.


______________
*Wahyubea -- tertarik ke dunia sastra terutama yang menjurus ke ranah politik. Penggemar Soe Hok Gie ini tinggal di - belakang - Margonda Residence. Berdasarkan SIAK-NG, status akademiknya masih "Aktif".

No comments:

Post a Comment